Arti penting Umur Manusia
Seorang yang akan bepergian jauh tentu akan mempersiapkan bekal dengan sebaik-baiknya dan perbekalan yang cukup. Ambil contoh seseorang yang hendak melakukan perjalanan haji, tentulah ia akan mempersiapkan bekal yang cukup dan mengumpulkan bekal yang cukup lama, yang mana ibadah haji hanya berlangsung sebentar saja, hanya beberapa hari. Sama juga seorang yang hendak menikah akan mempersiapkan bekal pernikahan dan biaya pernikahan yang itu terkadang didapat setelah ia bekerja keras dan lama mengumpulkannya. Lalu yang menjadi buah pertanyaan bagi kita sudahkah kita mempersiapkan perbekalan untuk suatu perjalanan yang tiada akhirnya? Yakni perjalanan akhirat. Dunia ini tidak lain hanyalah tempat singgah sementara, yang mana manusia akan melanjutkan perjalanannya kenegeri akherat yang tiada akhirnya.
Maka sudah semestinya kita mempersiapkan perbekalan untuk kehidaupan panjang yann tiada akhirnya. Allah berfirman,
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan tentang apa yang akan diperbuat olehnya untuk esok hari (akherat). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang engkau kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah tentang apa yang sudah kalian simpan dari amal shalih untuk hari kebangkitan. Serta (hal-hal) yang dinampakkan kepada Rab kaliaan.”[1]
Namun amat sangat disayangkan masih ada sebagian kaum muslimin yang berprinsip, baru akan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah setelah berusia senja, setelah pensiun, atau purna tugas, padahal dia tidak tahu umur berapa ia akan meninggal.
Bersegeralah Dalam Beramal
“Mumpung masih muda mas puas-puasin aja dan nikmati masa muda, kan gampang setelah tua nanti baru sadar.” Inilah ucapan yang acap kali kita dengar dari orang-orang yang bergelimang dengan maksiat dan jauh dari ketaatan. Padahal tahukah dia kalau umurnya bakalan panjang? Apakah punya rekomendasi dari Allah dengan tanda tangan malakat yang menyatakan umurnya bakal panjang? Kalau seandainya ia ditakdirkan panjang apakah ada jaminan bahwa dia akan sadar? Ayau jesteru malah makin tua makin menjadi maksiatnya?! Allah ta’ala berfirman,
وَما تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَما تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Dan tiada seseorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan untuk hari esok. Dan tiada seorang pun yang mengetahui dibumi mana dia akan mati. Sesunguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.” (Luqman: 34)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya banyak berangan-angan adalah modalnya orang-orang yang bangkrut.”[2]
Abdullah bin Umar berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Apabila engkau berada diwaktu sore janganlah menunggu (menunda beramal) diwaktu pagi. Dan jika berada diwaktu pagi, janganlah (menunda beramal) diwaktu sore. Gunakanlah masa sehatmu untuk masa sakitmu, dan hidupmu untuk matimu.”[3]
Maka janganlah lewatkan kesempatan hidup ini sebelum datangnya kematian. Allah berfirman,
حَتَّى إِذا جاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صالِحاً فِيما تَرَكْتُ كَلاَّ إِنَّها كَلِمَةٌ هُوَ قائِلُها وَمِنْ وَرائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ‘wahai Rabku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat beramal shalih terhadap apa yang telah aku tinggalkan.’sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkan saja.” (Al-Mu’minun: 99-100)
Umur Akan Dimintai Pertanggung Jawaban
Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, jika berlalu maka ia tidak akan kembali lagi. Setiap kali waktu bergulir, maka semakin dekatlah ajal kita. Dan umur adalah nikmat yang akan dimintai pertanggungjawaban disisi Allah. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَسْأَلَهُ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَمَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki manusia pada hari kiamat dari sisi Rabnya sehinga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya untuk apa ia pergunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan, dan tentang ilmunya apa yang ia amalkan (darinya).”[4]
Manfaatkanlah nikmat umur ini untuk beramal
Amat banyak orang-orang yang melewati harinya dengan hura-hura, foya-foya dan perbuatan sia-sia. Bahkan banyak diantara mereka yang manjadikan umurnya untuk ajang berbuat dosa danm kemurkaan Allah. Dia tidak mau memanfaatkan umurnya sebagai bekal di akherat atau tidak mau memanfaatkan umurnya utuk mengisi sesuatu yang berfaat bdalam dunianya. Seolah olah keadaannya mengatakan hidup itu Cuma sekali didunia saja maka manfaatkanlah untuk foya-foya. Tidak ada yang terbayang didalam benaknya kecuali menuruti hawa nafsunya. Maka kondisi orang yang seperti ini seperti binatang ternak bahkan lebih jelek. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“(Ada) dua nikmat  yang kebanyakan orang tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat, dan waktu senggang.”[5]
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda,
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa hidupmu sebelum matimu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa senggangmu sebelum masa sibukmu, masa mudamu sebelum tuamu, dan masa kayamu sebelum,masa fakirmu.”[6]
Berkata Al-Munawi, “Lakukanlah lima perkara sebelum datang lima perkara. “Hidupmu sebelum matimu” yakni pergunakanlah (hidupmu pada) hal-hal yang akan memberikan manfaat setelah matimu, karena orang yang telah mati telah terputus amalannya, pupus harapannya, datang penyesalannya serta beruntun kesedihannya. Maka gadaikanlah dirimu untuk kebaikanmu. “Dan masa sehatmu sebelum sakitmu” yakni manfaatkanlah (kesempatan) senggangmu didunia ini sebelum disibukkan dengan kedahsyatan hari kiamat yang awal persinggahannya adalah alam kubur. Manfaatkanlah kesempatan yang diberikan, semoga kamu selamat gdari siksa dan kehinaan. “Dan masa mudamu sebelum masa tuamu”, yakni lakukan ketaatan saat kamu mampu sebelum datang usia tu manghinggapimu., sehingga engkau akan menyesali perbuatan yang telah engkau sia-siakan dari kewajiban terhadap Allah ta’ala. “Dan masa kayamun sebelum masa faqirmu” yakni ,memanfaatkan dengan bersedekah atas kelebihan hartamu sebelum engkau jatuh kepa musibah yang menjadikanmu faqir, (jika demikian) maka engkau akan menjadi faqir di dunia dan di akherat. Kelima hal ini tidak diketahui kadar besarnya kecuali setelah hilang.”[7]
Telah Datang peringatan
Terkadang telah datang peringatan  dari tubuhnya sendiri. Hal ini menjadi peringatan akan dekatnya ajal menjemputnya. Sungguh uban yang telah menyelimuti kepala, kulit yang sudah mulai keriput, badan yang sudah mulai lemah merupakan tanda akan dekat ajal menjemputnya. Allah berfirman,
أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَما لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan apakah kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir nbagi ourang-orang yang mau berpikir, dan (apakah) tidak datng kepadamu pemberi peringatan?” (Fathir: 37)
Sebagian ahliu tafsir menjelaskan arti, “Telah datang kepadamu peringatkan” yakni: uban.
Demikian juga apabila Allah telah memberikan umur hingga seorang mencapai umur 60 tahun, berarti Allah tidak meninggalkan sebab lagi agar seseorang memilki alasan. Kesempatan telah Allah berikan dan umur telah dipanjangkan. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ، حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً
“Allah telah memberikan puncak udzur/alasan bagi seseorang yang diakhirkan ajalnya hingga mencapai usia enampuluh tahun.[8]
Maksud hadits ini adalah bahwa tidak ada lagi alasan baginya, seperti mengatakan, “Kalau umurku dipanjangkan, maka aku akan melakukan apa yang aku diperintahkan untuknya.” Dijadikannya umur empat puluh tahun sebagai batas udzur seseorang karena umur tersebut adalah umur yang mendekati ajal dan umur yang seharusnya seseorang kembali kepada Allah, khusyu’, dan mewaspadai datangnya kematian. Seorang yang lebih berumur enam puluh tahun hendaknya ia lebih menekuni amalan akherat secara total, karena sudah tidak mungkin lagi akan kembali dalam kondisinya yang pertama ketika dalam kondisi kuat dan semangat.”[9]
Umur Umat Ini
Allah telah mentakdirkan bahwa umur umat ini tidak sepanjang umur-umur umat terdahulu. Hal ini mengandung sebuah hikmah yang terkadang tidak diketahui oleh para hamba. Nabi shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda didalam hadits yang telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
   “Umur-umur umatku antara 60 sampai 70, dan sedikit dari mereka yang melebihi dari itu.”[10]
Maksud hadits ini adalah bahwa keumuman umur umat ini antara 60 hingga 70 tahun, dengan realita yang bisa disaksikan. Dimana ada juga diantara umat ini yang (mati) sebelum umur 60 tahun. Ini termasuk dari rahmat Allah dan kasih sayangnya supaya umat ini tidak terlibat dalam kehidupan dunia kecuali hanya sebentar. Karena umur, badan, dan rizki umat-umat terdahulu lebih besar sekian kali lipat dibandingkan umat ini. Dahulu ada yang diberi umur seribu tahun, panjang tubuhnya mencapai sekitar 80 hasta atau kurang. Satu biji gandum besarnya seperti pinggang sapi. Satu delima diangkat oleh sepuluh orang. Mereka mengambil dari dunia sesuai dengan jasad dan umur mereka, sehingga mereka sombong dan berpaling dari Allah. Dan manusia pun terus mengalami bentuk penurunan fisik, rizki, dan ajal. Maka jadilah umat ini sebagai umat yang terakhir, yang mengambil rizki yang sedikit, dengan badan yang lemah, dan pada masa yang pendek supaya mereka tidak menyombongkan diri. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah ta’ala kepada mereka.”[11]
Orang Yang Paling Baik
Manusia yang terbaik adalah manusia yang mengisi waktunya dengan amalan untuk kebaikan dunia dan akheratnya. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرَّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya dan jelek amalannya.”[12]
Seorang yang banyak kebaikannya, setiap kali dipanjangkan umurnya, maka akan banyak amalannya dan bertambajh pahala kebaikannya,
Dahulu ada dua orang yang datang kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan sama-sama masuk Islam. Salah satunya lebih bersemangat untuk beramal dari pada yang lainnya. Orang yang bersemanagat tersebut ikut pertempuran dan terbunuh. Temennya yang satu masih hidup satu tahun setelahnya, lalu meninggal diatas ranjangnya. Maka ada shahabat bernama Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu bermimpi tentang dua orang tersebut. Dalam mimpinya keduanya berada dipintu sorga. Maka orang yang matinya diatas ranjangnya dipersilahkan masuk sorga terlebih dahulu. Setelah itu temannya yang terbunuh dipersilahkan masuk. Pada pagi jharinya Thalhah bercerita kepada orang-orang dan mereka merasa takjub dengan hal tersebut, berita mimpi Thalhah dan takjubnya manisia pun sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Bukankah (orang yang mati diranjangnya) ini masih hidup setahun setelah (kematian temennya yang terbunuh dijalan Allah) itu? Para shahabat menjawab, “Benar”. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya lagi, “Dan ia mendapati bulan Ramadhan lalu ia puasa dan shalat sekian dan sekian dalam setahun?” para shahabat menjawab, “Benar”. Rasulullah bersabda, “Jarak (derajat) antara keduanya lebih jauh dari pada jarak antara langit dan bumi.”[13]
Karena mat berharga dan mahalnya umur seorang mu’min, maka dahulu ada seorang salaf mengatakan, “Sungguh satu jam kamu hidup padanya dengan kamu beristighfar kepada Allah lebih baik dari pada kamu mati selama setahun.
Dan dahulu ada seorang salaf yang sudah tua ditanya, “Apakah kamu ingin mati?” jawabnya, “Tidak. Karena masa masa muda dan kejahatannya telah berlalu, dan kini datang masa tua bersama kebaikannya. Jika aku berdiri aku mengucapkan bismillah, jika aku duduk aku mengucapkan alhamdulillah. Aku ingin untuk terus dalam kedaan seperti ini.”
Dan ada juga seorang salaf lainnya yang sudah tua ditanya, “Apa yang masih masih tersisa dari keinginanmu didunia ini?” Dia menkjawab, “Menangisi dosa-dosa yang telah aku perbuat.”
Oleh karena itu banyak dari salaf kita yang menangis ketika mau meninggal. Bukan karena sedih berpisah dengan kenikmatan dunia, mnamun bersedih lkarena terputus dengan amalan-amalan shalat malam yang dia lakukan, puasa, tilawatul Qu’an dan yang lainnya. Hal ini seperti yang dialami oleh Yazid bin Aban Ar-Raqqasyi rahimahullah.[14]
Larangan Meminta Kematian
Tidak seyogianya seorang meminta kematian tanpa ada sebab yang dibenarakan. Diantara sebab yang diperbolehkan adalah ketika ia merasa yakin apabila ia masih hidup maka ada indikasi yang kuat bahwa cobaan yang menderanya akan menyesatkannya dari agama Allah. Mnamun apabila alasannya tidak diperbiolehkan semisal seorang yang ditimpa penyakit dan sudah berobat namun penyakitnya tidak kunjung sembuh, atau dililit hutang dan semisalnya, maka meminta mati dalam hal ini adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Mnabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
“Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan kematian karena penderitaan yang menimpanya. Jika mau tidak mau harus berbuat, maka ucapkanlah, ‘Wahai Allah hidupkanlah aku jika memang hidup itu lebih baik bagiku. Dan wafatkanlah aku jika memang wafat itu lebih baik bagiku.”[15]
Seorang mu’min selalu meminta yang terbaik kepada Allah. Karena seseorang tidak tahu apakah setelah kematian kondisinya lebih baik atau justeru sebaliknya. Dengan kematian, seorang telah terputus dari amalannya dan tidak bermanfaat lagi taubat dan penyesalan.
Habib bin ‘Isa Al-Farisi rahimahullah merasa gusar ketika kematian menjemputnya. Ia mengatakan, “Sunguh akan akan pergi dengan menempuh perjalanan jauh yang belum pernah aku tempuh. Aku akan menelusuri suatu jalan yang belum pernah aku telusuri. Akau akan berjalan menunggu kekasihku (Allah ta’ala) yang belum pernah sama sekali aku melihat-Nya. Dan aku akan melihat kedahsyatan yang belum pernah aku melihat sebelumnya”[16]
Memohon Agar Dipanjangkan Umur
Panjangnya umur bukanlah jaminan selamatnya seseorang dari adzab. Lihatlah bagaimana orang-orang Yahudi amat sangat beranbisi agar mereka diberi umur yang panjang. Sebagaimana Allah berfirman,
يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَما هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذابِ أَنْ يُعَمَّرَ
“Masing-masing mereka berangan-angan agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang tersebut tidaklah sekali-kali menjauhkan dari siksa.” (Al-Baqarah: 96)
Adapun seorang mu’min tidaklah bertambah umur kecuali akan bertambah baginya kebaikan. Oleh kerena itu diperbolehkan bagi seseorang untuk meminta kepada Allah agar dipanjangkan umur. Sebagai mana Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah mendoakan Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَولَدَهُ وَأدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
Wahai Allah perbanyaklah hartanya, anaknya, dan panjangkanlah umurnya.” [17]
Berkata Syaikh Al-Albani, “Pada hadits diatas, terdapat faedah tentang bolehnya mendoakan panjangnya umur bagi seseorang.”[18]
Namun seyogyanya doa meminta panjang umur tersebut dibarengi dengan permohonan kebaikan dan barakah. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata, “Tidak sepantasnya seseorang mengucapkan (selamat) panjang umur, karena panjangnya umur terkadang baik dan terkadang jelek. Orang yang jelek adalah seorang yang panjang umurnya lagi jelek amalannya. Berdasarkan hal tadi maka tidak mengapa seseorang mendoakan, ‘Semoga Allah panjangkan umurmu diatas ketaatan kepada Allah atau yang semisalnya’.”[19]
Tauladan Para Salaf Didalam Menjaga Waktu Diatas Ketaatan
   Apabila kita membuka lembaran generasi para salaf dan kesungguhan mereka di dalam memanfaatkan waktu untuk ketaatan, maka sungguh kita akan merasa takjub dan seolah-olah itu hanyalah dongeng semata yang tidak ada di alam nyata. Mereka adalah generasi yang lebih mementingkan kehidupan akherat dari pada dunia. Mereka adalah orang-orang yang siap berkorban dengan jiwa, harta, dan raganya dalam rangka membela agama Islam. Mereka akan sipa berkorban untuk semua itu walaupun dengan resiko dimurkai oleh manusia.
Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mencermati  lembaran-lembaran mereka didalam hal memanfaatkan waktu untuk ketaatan, agar semangat menjadi tumbuh dan kemalasan akan terenyahkan. Dalam Al-Qur’an Allah telah mensifati hamba-hamba-Nya yang diridhoi-Nya dengan firman-Nya,
كانُوا قَلِيلاً مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan diakhir-akhir malam mereka beristighfar (memohon ampun kepada Allah).” (Adz-Dzariyat: 17-18)
Mereka melewati malam-malam yang panjang bukanah untuk begadang dalam hal-hal yang tidak bermanfaat atau tidur terlelap sepanjang malam, akan tetapi mereka melewatinya untuk beristighfar dari kesalahan-kesalahan dan kekurangan mereka. Demikian pula Ibrahim dan Ismail ‘alaihimassalam tatkala selesai membangun Ka’bah, rumah Allah yang termulia, ditempat yang paling mulia yaitu Makkah. Keduanya berdoa:
رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنَّا
“Wahai Allah terimalah dari kami.” (Al-Baqarah: 127)
Berbeda dengan seorang yang jelek, mereka menggabungkan antara jeleknya perbuatan dan sikap merasa aman dari adzab Allah.
Inilah shahabat Abdullah bin umar radhiyallahu’anhuma, ketika Abu Hurairah radhiyallahu’anhu memberitahukannya tentang hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam bahwa orang yang menshalati janazah akan mendapatkan pahala satu qirath, dan barang siapa yang mengantarkannya sampai kubur dia mendapatkan pahala dua qirath. Abdullah bin Umar belum pernah mendengar hadits itu, lalu ia mengutus seseorang untuk bertanya kepada ‘Aisyah, dan ia menjawab, “Benar apa yang dikatakan Abu Hurairah.” Ketika utusan tadi telah pulang dan mengabarkannya, Abdullah mengatakan dengan ucapan penyesalan, “Sungguh kita telah menyia-nyiakan qirath yang banyak.”[20]
Demikianlah Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma sangat menyesal karena telah terlewatkan untuk mendapat pahala yang besar. Namun pernahkah kita menyesalai atas terluputnya amalan ketaatan yang terluput pada diri kita? Atau justeru yang kita sesali adalah terluputnya kemewahan dunia.
Dahulu apabila seorang Ahli hadits mendiktekan hadits kepada murid-muridnya dan ia berhenti sejenak untuk memberi kesempatan muridnya dalam rangka menulis hadits, ia memanfaatkan waktu yang sejenak itu untuk beristighfar dan bertasbih.
Dahulu ada yang menyebutkan tentang Al-Imam Abdullah bin Al-Imam Ahmad rahimahullah, “Tidaklah aku melihatnya kecuali ia sedang membaca, tersenyum atau sedang meneliti (suatu permasalahan agama).
Al-Imam Adz-Dzahabi menyebutkan tentang biografi Abdul Wahhab bin Al-Wahhab bin Al-Amin rahimahullah bahwa waktunya sangat terjaga. Tidaklah berlalu suatu saat kecuali dia sedang membaca, berdzikir, tahajjud, atau setor hafalan.[21]
Berlindung Kepada Allah Dari Penyakit Pikun
        Semakin berlanjut usia seseorang semakin berkurang kekuatannya dan melemah fisiknya sehingga kembali kepada kondisi yang serupa dengan anak kecil yang lemah tubuhnya, sedikit akalnya, dan kurang pengetahuannya. Oleh karena itu diantara doa Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
“Wahai Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, dan kepikunan.”[22]

Bersiap-siaplah Untuk Menghadapi Akherat
Ketahuilah bahwa setan senantiasa membisikan untuk mengakhirkan taubat hingga akhir umurnya. Sehingga apabila telah mati barulah ia merasa menyesal akibat apa yang telah ia sia-siakan dari umurnya untuk menuruti syahwat dunianya yang semu. Ia berangan-angan agar dikembalikan kedunia agar beramal shaleh namun itu sudah tidak bermanfaat lagi. Allah sudah memperingatkan para hamba untuk bersiap-siap menghadapi akherat. Dan memerintahkan mereka untuk segera bertaubat dari kesalahan-kesalahn dan dosa. Allah berfirman,
وَأَنِيبُوا إِلى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذا
بُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ  أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتى عَلى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ
   “Dan kembalilah kamu kepada Rabmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong  (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang diturunkan kepadamu dari Rabmu sebelum datang kepadamu azab dari Rabmu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang menyatakan, ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah’.” (Az-Zumar: 54-56)
Berkata Ali bin Abi Thalib, “Dunia pergi membelakangi, sedangkan akherat telah datang menyambut dan masing-masing dari keduanya memilki anak-anak (pecinta) nya. Maka jadilah kalian termasuk ahli akherat dan janganlah menjadi ahli dunia. Karena hari ini (kehidupan didunia) adalah tempat beramal bukan hisab, dan besok (kiamat) hanya ada hisab bukan amal.”[23]
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
لاَ يَزَالُ قَلْبُ الكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الأَمَلِ
“Orang sudah tua akan senantiasa muda pada dua perkara: dalam cinta dunia dan panjangnya angan-angan (umur).”[24]
Oleh karena itu wahai kaum muslimin usia adalah hakekat hidup kita. Makin bertambah usia, makin berkurang umur kita. Mengherankan tingkah sebagian orang yang merayakan ulang tahunnya setiap tahun. Seringkali diiringi dengan hinggar binggar dan hura-hura. Lupa saat ajal tiba, tidak ada lagi “kesempatan kedua” untuk bertaubat dan mengayam kebaikan. Adapun orientasi hidup seorang mukmin adalah beribadah kapada Allah dengan semaksimal mungkin dan munggunakan waktunya untuk meningkatkan amal shalih, yang merupaka jalan menuju sorga. Wallahu a’lam Bish Shawwab.




[1]  Taisir Al-‘Aliyyir Qadir: 4/339.
[2]  Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi: hal.32.
[3] HR. Al-Bukhari: 6416.
[4]  HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lihat As-Shahihah, no.946.
[5]  HR. Bukhari dan At-Tirmidzi. Lihat Shahih At-tirmidzi no.2304.
[6]  HR. Al-Hakim dan selainnya.dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihul Jami’ no.1077.
[7]  Faidhul Qadhir: 2/21.
[8]  HR. Al-Bukhari: no.6419.
[9]  Fathul Bari: 11/240.
[10]  Hadits ini dihasankan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar didalam Fathul Bari: 11/240.
[11]  Disadur secara makna dari perkataan Imam At-thibi didalan kitab Al-Faidhul Qadir: 2/15.
[12]  HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah radhiyallahu’anhu, lihat Shahihul Jami’ no: 3297.
[13]  Shahih Sunan Ibnu Majah: no.3185.
[14]  Lihat Syarah hadits Allahumma Bi’ilmika al-Ghaib. Karya Ibnu Rajab rahimahullah, hal.25-26.
[15]  HR. Al-Bukhari no.5671.
[16]  Syarah hadits Allahumma Bi’ilmika al-Ghaib. Karya Ibnu Rajab rahimahullah, hal.32 dan Hilyatul Auliya’: 149-155.
[17]  Shahih Al-Adab Al-Mufrad: no.508.
[18]  Syarah Shahih Al-Adab Al-mufrad: 2/311
[19]  Al-Manahi Al-Lafdziyyah, hal. 89.
[20]  Sunan Ath-Tirmidzi: 1040. Cet. Al-Ma’arif.
[21]  Ma’alim Fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, karya Abdul Azizi As-sadhan. Hal. 33-37. Umur anegerah yang terabaikan tulisan Al-Ustadz Abdul Mu’thi Lc, majalah Asy-Syariah vol.III rubrik Akhlaq.
[22]  HR. Al-Bukhari: no.6367.
[23]  Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq Bab Fil Amal Wa Thulihi.
[24]  HR. Al-Bukhari: no. 6420.
 

SEMANGAT TINGGI DALAM MENUNTUT ILMU.
Segala puji adalah milik Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, kepada keluarganya  dan para shabatnya seluruhnya.
Berkata seorang penyair:
Wahai seseorang yang ingin menumpang sesungguhnya kendaraan ini akan berjalan dengan cepat
Sementara kita masih duduk-duduk, apasebenarnya yang sedang anda kerjakan?!
Apakah engkau akan ridho’ ditinggalkan oleh mereka
Masihkah seseorang dibuai angan-angan Sementara kebinasaan
Menghadang dirinya maka menangislah seorang yang hendak menangis
Apakah waktunya akan ia sia-siakan dengan main-main?!
Setiap manusia memiilki tujuan dan cita-cita, oleh karena itu benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu’laihi wasallam,
أَصْدَقُ الْأَسْمَاءِ الْحَارِثُ، وَهَمَّامٌ
“Sejujur-jujurnya nama adalah Harits dan Hammam (yang memilki tekad yang tinggi).” Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb didalam Al-Majaami’ dari Abdul Wahhab bin Bukht dan diriwayatkan oleh Al-bukhari didalam Al-Adabul Mufrad dan dishahihkan oleh Al-Allamah Al-Albani. Yang demikian itu dikarenakan setiap manusia punya tekad dan cita-cita, namun ada diantara mereka yang cita-citanya dintara singgasana dan ada diantara mereka yang cita-citanya hanya berkisar pada tempat tidur.
Imam Ibnul Jauzi menyebutkan didalam kitab Shifatush Shafwah: 2/229: Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, “Aku banyak mendengar bapakku (imam Ahmad) mengatakan , ‘Mudah-mudahan Allah merahmati Abul Haitsam dan mengampuninya.’ Maka aku katakan, ‘siapakah itu Abul Haitsam?’ maka ia menjawab, ‘Tatkala aku keluar dihadapkan menuju algojo tukang cambuk dan aku membentangkan tanganku untuk  dicambuk tiba-tiba aku bertemu dengan anak muda yang menarik bajuku dari arah belakangku kemudian ia mengtakan, ‘Apakah engkau mengetahuiku?’ aku menjawab, ‘Tidak’. Kemudian ia mengatakan, Aku adalah Abul Haitsam Al-‘Iyaar seorang perampok yang tercatat ditempat amirul mu’minin sebagai seorang yang suka memukul dengan cemeti sebanyak 18.000 kali terhadap orang yang berbeda, sementara aku sabar untuk melakukan hal tersebut yaitu ketaatan dijalan setan, maka bersabarlah engkau diatas ketaan kepada Allah demi agama ini’.”
Dan merupakan nikmat Allah yang besar atas hambanya manakala ia diberi taufiq agar memiliki tekad yang tinggi, namaun apakah tekad yang tinggi itu?
Berkata imam Ibnul Qayyim rahimahullah, “Sesungguhnya tekad seorang hamba apabila selalu bergantung kepada Allah Ta’ala dengan jujur dan ikhlas, maka itulah tekad yang tinggi.” (Madarijus Saalikiin: 3/3)
Maka ini adalah taufiq dari Allah Azza Wa Jalla. Allah berfirman,
وَاذْكُرْ عِبادَنا إِبْراهِيمَ وَإِسْحاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصارِ  إِنَّا أَخْلَصْناهُمْ بِخالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ
“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi.Sesungguhnya kami Telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang Tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (Shad: 45-46)
Berkata Mujahid,  إِنَّا أَخْلَصْناهُمْ بِخالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ ‘Yaitu tidak  ada bagi mereka keinginan utama melainkan kehidupan akhirat’.’’
Berikut ini adalah hadits-hadita yang menjelaskan tentang tekad yang tinggi, maka pegang teguhlah baik-baik:-
  1. Dari Al-Husain bin Ali radhiyallahu’anhu ma berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأُمُورِ، وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
“Sesunggunya Allah mencintai perkara-perkara yang agung dan mulia serta membenci hal-hal yang rendah.” (HR. Ath-Thabrani dan selainnya. Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Bani rahimahullah)
  1. Dari Kulaib radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
يُحِبُّ اللهُ لِلْعَامِلِ إِذَا عَمِلَ أَنْ يُحْسِنَ
“Sesungguhnya Allah mencintai seorang yang beramal dan ia memperbagus dalam amalannya.” (HR. Al-Baihaqi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
  1. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang mana manusia banyak tertipu padanya yaitu kesahatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
“Bersegeralah dalam beramal sebelum datangnya fitnah seperti potongan malam yang hitam, pada pagi harinya seorang dalam kedaan beriman dan pada saat sore harinya seorang dalam kedaan kafir, kemudian pada sore harinya seorang dalam keadaan beriman dan pada pagi harinya ia dalam keadaan kafir ia menjual agamanya dengan materi dunia yang sedikit.” (HR. Muslim)
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
“Seorang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mu’min yang lemah, namun masing-masing memilki kebaikan, bersemanagatlah kepada apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah janganlah engkau merasa lemah. Apabila menimpa padamu sesuatu hal, maka janganlah engkau mengucapkan, ‘seandainya aku melakukan hal ini niscaya akan begini dan begini’ akan tetapi ucapkanlah, ‘Sesunguhnya itu adalah kehendak Allah dan apa yang yang ia kehendaki pastilah terjadi.” (HR. Muslim)
  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Dahulu kami duduk disisi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam…kemudian Nabi shallallahu’alaihi wasallam meletakkan tangannya pada Salman, kemudian beliau bersabda,
لَوْ كَانَ الإِيمَانُ بِالثُّرَيَّا لَتَنَاوَلَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ
“Kalau seandainya keimanan ada pada bintang itu pastilah akan didapatkan oleh orang ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan didalam riwayat Muslim, “Kalau seandainya keimanan itu ada pada bintang itu pastilah akan dicari oleh seorang dari Persia ini.”
  1. Dari Sulaiman berkata, Rasullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ خَيْرًا مِنْ أَلْفٍ مِثْلِهِ مِنَ الْإِنْسَانِ
“Tidak ada seseatu yang seribu kali lebih baik darinya dari pada manusia.” (HR. At-Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Bani)
  1. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu berkata, Rasululllah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
عِنْدَ اللهِ خَزَائِنُ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ، مَفَاتِيحُهَا الرِّجَالُ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَهُ مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، وَمِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَهُ مِفْتَاحًا لِلشَّرِّ، وَمِغْلَاقًا لِلْخَيْرِ
 “Disisi Allah lah perbendaharaan yang baik dan buruk, sedangkan kunci-kuncinya adalah manusia, maka beruntunglah bagi seorang yang Allah jadikan padanya kunci kebaikan dan penghalang keburukan dan calakalah bagi seorang yang jadikan padanya kunci keburukan dan penghalang terhadap kebaikan.”  (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Suaikh Al-Albani)
  1. Dan didalam sebauah hadits,
لِكُلِّ قَرْنٍ سَابِقٌ
“Setiap generasi ada pendahulunya.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)
  1. Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
كَمَا لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ لَا يَنْزِلُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ، وَهُمَا طَرِيقَانِ فَأَيُّهُمَا أَخَذْتُمْ أَدَّتْكُمْ إِلَيْهِ
 “Sebagaimana duri tidak akan menghasilkan anggur, demikian juga orang-orang yang jahat tidak dapat menandingi kedudukan orang-orang yang beruntung. Sedangkan keduanya adalah jalan yang ditempuh (manusia), maka mana saja diantara keduanya yang kamu ambil itulah yang engkau dapatkan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dan dishahihkan oleh syaikh Al-AlBani)
  1. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ آخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ، وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ
 “Barang siapa yang menjadikan cita-citanya hanya pada satu cita-cita -yaitu akhirat- maka Allah akan mencukupkan seluruh cita-citanya, namun barang siapa yang banyak angan-angannya dari keinginan duniawi maka Allah tidak akan mempedulikan dilembah yang mana dia akan binasa.” (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
  1. Dari Anas radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
من أراد أن يعلم ماله عند الله فلينظر ما لله عنده
“Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya disisi Allah, maka hendaklah ia perhatikanlah kedudukan Allah disisinya.” (HR. Ad-Daruquthni dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani)
  1. Dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى يَرَاهُمْ مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْهُمْ كَمَا يُرَى الْكَوْكَبُ الدُّرِّيُّ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ مِنْهُمْ وَأَنْعِمَا
“Sesunguhnya orang-orang yang berada pada derajat yang tinggi (disorga), maka orang-orang yang ada dibawah mereka akan melihat mereka seperti engkau melihat bintang-bintang yang ada di ufuk langit. Dan sesungguhnya Abu Bakr dan Umar termasuk dari mereka dan keduanya mendapatkan nikmat.”
Keduanya mendapatkan derajat yang tinggi diakhirat karena besarnya semangat dan tekad keduanya (dalam beramal).
SEMANGAT YANG TINGGI DALAM MENUNTUT ILMU SYAR’I
Hal yang paling utama adalah engkau mengarahkan tekad dan semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu syar’i. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar didalam Muqaddimah Shahih Bukhari:-
“Amma ba’du: sesungguhnya hal yang paling utama untuk engkau curahkan semangatmu sepanjang hari adalah menyibukkan diri dengan ilmu syar’i yang bersumber dari sebaik-baik manusia. Dan seorang yang berakal tidak akan ragu bahwa sumber dari (ilmu tersebut) adalah Kitabullah yang memberikan petunjuk dan sunnah Nabi-Nya yang terpilih.”
Berkata imam Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah, “Renungkanlah sebuah keajaiban, yang mana segala hal yang berharga pastilah tidak akan didapat keculi dalam waktu yang lama dan adanya kepayahan dalam mendapatkannya. Sesengguhnya ilmu yang itu merupakan sesuatu yang paling berharga, tidak akan bisa didapat kecuali dengan suatu kepayahan, begadang malam, mengulang-ulangnya, serta meninggalkan kesenangan dan kelezatan, hiangga berkata sebagian ulama, “Selama bertahun-tahun aku menginginkan untuk makan Harisah[1] akan tetapi aku tidak mampu, karena penjualnya berjualan ketika kami sedang mengikuti pelajaran…..”
Diriwayatkan oleh imam Muslim didalam shahihnya dari Yahya bin Abi katsir berkata, “Ilmu tidak akan diperoleh dengan jasad yang berleha-leha.”
Ibnu Hisyam An-Nahwi menasehatkan para penuntut ilmu agar selalu bersabar dalam menghadapi kesulitan yang menghadang ketika menuntut ilmu dengan perkataannya,
Barang siapa yang sabar dalam menuntut ilmu dia akan sukes mendapatkannya
Sebagaimana seorang yang ingin melamar wanita cantik ia akan bersabar dalam usahanya
Barang siapa yang tidak mau menundukkan dirinya untuk mencari sesuatu yang tinggi
Maka dia akan menjalani hidup sepanjang masa diatas kehinaan
POTRET TENTANG KEGIGIHAN PARA SALAFDALAM MENUNTUT ILMU
  • Dari amirul mu’minin Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu berkata, “Dahulu aku dan tetanggaku dari Anshar –yaitu Aus bin Khauli Al-Anshari- di Bani Umayyah bin Zaid di salah satu tempat Bani Umayyah-  salah satu tempat didataran tinggi di Madinah, dan dahulu kami bergantian ketika turun (mengikuti majelis) Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, sehari dia yang turun dan satu hari aku yang turun. Apabila aku yang turu maka aku akan membawa berita kepadanya tentang wahyu yang turun padahari tersebut atau yang selainnya, apabila giliran dia yang turun maka ia melakukan hal yang sama sepertiku.”
  • Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “ Setelah sepeninggal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam aku pernah berkata kepada kepada salah seorang dari Anshar, ‘Marilah kita belajar dari para shahabat karena mumpung jumlah mereka sekarang masih banyak’! maka orang Anshar tersebut mengatakan, ‘Alangkah anehnya kamu ini wahai Ibnu Abbas apakah kamu mengira ilmumu nanti akan dibtuhkan oleh manusia sedangkan ditengah-tengah mereka masih banyak sahabat-sahabat yang lain?’ berkata Ibnu Abbas, ‘Maka aku tinggalkan orang ini dan aku mendatangi para shahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam untuk belajar kepada mereka. Suatu ketika sampai kepadaku suatu hadits dari salah seorang diantara mereka dan aku mendatangi pintu rumahnya dalam kedaan ia sedang tidur siang, maka aku gunakan selandangku untuk duduk didepan pintu rumahnya, (aku terus menunggu) hingga aku terkena terpaan angin yang membawa debu. Maka kemudian keluarlah dia dan melihatku kemudian mengatakan, ‘Wahai anak paman Rasulullah apa yang membuat anda datang? Mengapa engkau tidak mengutus orang saja agar aku datang kepadamu?’ maka aku berkata, ‘Seharusnya akulah yang mendatangimu’, maka kemudian aku bertanya kepadanya tentang suatu hadits. Kemudian orang Anshar tadi masih hidup dan ia melihatku dalam kedaan aku dikelilingi oleh para manusia yang bertanya kepadaku tentang (permasalahan agama) kemudian ia mengatakan, ‘sungguh pemuda ini lebih pandai dari pada diriku’.” Maka tatkala dibukanya berbagai macam negeri menyebarlah keilmuan Ibnu Abbas ke berbagai belahan kota baik dinegeri Syam, Irak, maupun daerah disekitar tepian sungai Nil, Dajlah, Dan Furat. Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, “Tatkala Islam berhasil menaklukkan berbagai negeri, maka masuia pun banyak yang berbondong-bondong menuju dunia namun aku datang menuju Umar (untuk mengambil ilmu darinya).” Ibnu Abbas juga berkata, “Saya pernah menfatangi pintu Ubay bin Ka’ab (untuk bertanya tentang suatu hadits), sedangkan ia dalam kedaan tidur, maka akupun tidur didepan pintu rumahnya. Seandainya dia tahu hal tersebut pastilah ia akan membangunkanku dari tempatku karena kedudukanku dihadapan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, akan tetapi aku tidak mau mengganggu (tidurnya).”
  • Berkata Asy-Syafi’i rahimahullah, “Aku telah menghafal Al-Qur’an ketika berumur tujuh tahun dan aku menghafal kitab Al-Muwattha’ ketika berumur sepuluh tahun. Maka tatkala aku telah menyelasikan hafalan Al-Qur’an akupun masuk masjid untuk duduk dimajelis para ulama, aku mendengar suatu hadits atau suatu faedah kemudian aku pun menghafalnya. Sedangkan ibuku tidak punya uang pun untuk membeli kertas, maka tatkala aku melihat tulang yang bisa untuk ditulis padanya aku pun mengambilnya untuk aku tulis padanya. Tatkala tulisannya sudah penuh aku pun menaruh tulang tersebut pada suatu wadah kuno milik kami.” Beliau juga berkata, “Aku adalah seorang yang tidak punya, sedangkan aku mencari ilmu Syar’i semenjak masih belia, maka tatkala aku memasuki usia kurang dari tiga belas tahun aku pun pergi ke tempat perkantoran untuk meminta kertas-kertas bekas agar aku gunakan untuk menulis.”
  • Muhammad bin Salam, ia adalah syaikhnya imam Bukhari. Dikisahkan tentangnya bahwa suatu ketika ia pernah duduk di majelis imla’, yaitu majelis yang mana ada didalamnya seorang syaikh mendiktekan suatu hadits kemudian penanya yang ia gunakan untuk menulis tiba-tiba patah. Kemudian ia memerintahkan seseorang untuk mengumumkan, ‘siapakah yang mau menjual penanya seharga satu dinar’, maka orang-orangpun menawarkan pena-penanya kepadanya.
  • Berkata imam Ahmad, “Aku pernah pagi-pagi sekali mempersiapkan diri untuk belajar hadits dan ibukulah yang mempersiapkan pakaianku, hingga dikumandangkannya adzan atau pada pagi hari.” Kemudian ia berkata, “Seandainya aku memiliki 50 dirham, maka aku akan pergi (balajar) kepada Jarir bin Abdil Hamid.”
  • Berkata Abu Zur’ah, “Ahmad bin Hanbal menghafal satu juta hadits. Maka ada yang bertanya kepadanya, ‘Dari mana engkau tahu itu?’ maka ia menjawab, ‘aku bejar darinya dan mengambil hadita darinya’.”
  • Berkata Abu Thahir As-Silafi, “Saya berdomisili 60 tahun di Iskandariyah, dan saya tidak pernah melihat menaranya kecuali dari arah jendela ini.” Kemudian ia memberi isyarat kepada kamar yang ia duduk didalamnya.
Maka Ibnu Nashir mensifati Al-Hafidz Abut Thahir As-Silafi dengan perkataannya, “Ia adalah seorang yang memilki semangat yang berkobar didalam mencari ilmu.”
  • Utsman Al-Baqillaani adalah sosok yang selalu berdzikir kepada Allah Ta’ala, suatu ketika ia berkata, “ketika saya sedang berbuka puasa, maka ruhku seolah-olah keluar dari jasadku karena aku tersibukkan untuk makan dari berdzikir kepada Allah Ta’ala.”
  • Berkata ‘Ammar bin Rajaa’, aku mendengar Ubaid bin Ya’isy berkata, “Aku bermukim selama tiga puluh tahun, namun aku tidak pernah sekalipun makan dengan tanganku pada saat malam hari. Saudarikulah yang menyuapiku sedangkan saya tetap menulis hadist.”
  • Berkata Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, “Tatkala aku baru memulai mencari ilmu maka aku berkata, ‘Wahai Rabku sesungguhnya aku butuh penghidupan’. Maka tatkala aku sudah mempelajari ilmu syar’i tersebut dan aku meluangkan waktuku untuknya, maka berketa setelahnya, ‘Allah-lah yang akan mencukupi permintaanku’.” Beliau bertekad untuk mencari ilmu dan ibunyalah yang mencukupi kebutuhannya. Ibunya berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Tuntutlah ilmu dan akulah yang akan mencukupi kebutuhanmu’. Sufyan Ats-Tsauri juga mengatakan, “Seyogyanya setiap orang tua menekankan anaknya untuk mempelajari hadits, karena itu adalah merupakan tanggung jawabnya.”  Ia juga berkata, “Senantiasa kali selalu menuntut ilmu selama masih ada yang mengajarkannya kepada kami.”
  • Abdurrah bin Abi Hatim pernah ditanya tentang kenapa ia banyak meriwayatkan hadits dari bapaknya (imam Abu Hatim) dan banyak mendapat maklumat dari dirinya? Maka ia menjawab, ‘Terkadang ia (ayahku) sedang makan dan aku pun membacakan hadits dihadapannya, terkadang ia dalam keadaan berjalan dan aku membacakan hadits dihadapannya, aku bacakan hadits sedangkan dia sedang berada di tempat buang hajat, dan aku membacakan hadits sedangkan ia sedang masuk kedalam rumah untuk suatu keperluan.”
  • Berkata Abdurrahman bin Abi Hatim tentang dirinya, “Dahulu kami pernah tinggal di Mesir selama 7 bulan tanpa pernah merasakan kuah (daging) sekalipun, dikarenakan pada malam hari kami belajar dihadapan para syaikh kami, sedangkan dimalam hari kami menyalin dan mengulang kembali pelajaran kami. Pada suatu hari aku bersama temanku mendatangi seorang syaikh, namun orang-orang mengatakan, ‘Ia sedang sakit’, kemudian aku melihat seekor ikan yang manakjubkan kami maka kami pun membelinya. Tatkala kami telah tiba ditempat kami tibalah waktu pelajaran dari syaikh berikutnya (yang akan mengajar) maka kami pun berangkat untuk belajar. Setelah tiga hari berikutnya ikannya masih ada dan hampir-hampir akan membusuk, maka kami pun memakannya mentah-mentah dan kami tidak sempat untuk memasaknya’, kemudian berkata imam Abdurrahman bin Abi Hatim mengatakan, “Sesungguhnya ilmu tidak dapat diraih dengan badan yang santai.”
  • Berkata As-Sakhawi tentang syaikhnya Ibnu Hajar rahimahullah:- “Momen yang paling berkesan tentang dirinya adalah ketika ia sedang melakukan perjalanan ke Syam, maka ia telah membaca kitab Mu’jam Ath-Thabrani Ash-Shaghir dalam satu majelis sekitar seribu limaratus hadits.”
  • Berkata Sa’id bin Musayyib , “Aku pernah berjalan sepanjang siang dan malam hanya untuk mencari satu hadits.”
  • Berkata Abul ‘Aliyah Rafi’bin Mihran Ar-Riyahi, “Adahulu kami pernah mendengar riwayat hadits dari shabat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang ketika itu kami berada di Bashrah, maka kami tidak mau hanya sekedar mendengarnya saja sampai kami menempuh perjalan ke Madinah agar kami (mendengar) hadits tersebut langsung dari mimik-mimik mereka.”
  • Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menjelaskan biografi imam Bukhari rahimahullah, “Ia telah melakukan perjalan untuk (mencari hadits) dari berbagai macam syaikh diberbagai negeri yang ia singgahi. Dan ia menulis (hadits) lebih dari seribu syaikh. Berkata Al-Gharbari, “Ada sekitar tujuh puluh ribu orang bersamaku mendengar (hadits) shahih dari Al-Bukhari , namun kemudian tidak tersisa seorang pun melainkan hanya aku semata.”
  • Berkata Bakr bin Hamdan, “Aku mendengar Ibnu Kharasy berkata: ‘Aku sampai meminum air kencingku karena mencari (hadist) selama lima kali’.”
Hal itu terjadi karena ia memalui padang pasir dan lembah-lembah kemudian ia ditimpa kehausan yang amat sangat di perjalanannya.
  • Berkata Ibnul Jauzi, “Sungguh dahulu aku merasakan kenikmatan dalam menuntut ilmu, yang mana bagiku itu lebih manis dari pada madu karena (kemuliaan) apa yang aku cari dan aku harapkan.”
  • Berkata An-Nawawi ketika mengkisahkan tentang awal periodenya dalam mencari ilmu, “Aku tinggal selama dua tahun dan aku belum pernah sekalipun meletakkan lambungku ke tanah.”
  • Inilah Ibnu Katsir tatkala ia menulis kitab Jami’ul Masanid beliau benar-benar mencurahkan jiwa raganya dengan gigih, hingga ia mengalami kepayahan yang luar biasa. Hingga jadilah karya tulis yang tiada duanya di bidangnya ia berhasil menyelasaikannya kecuali sebagian kecil hadits-hadits musnad dari Abu Hurairah, beliau wafat sebelum menyelesaikan karya tulisnya tersebut walaupun harus ditebus dengan kehilangan penglihatan (buta). Ia (Ibnu Katsir) berkata kepada Adz-Dzahaby, “Senantiasa aku menulisnya walaupun sampai malam hari, sedangkan lentera yang digunakan redup cahayanya hingga hilanglah penglihatanku. Mudah-mudahan Allah menggatikannya dengan seseorang yang akan menyempurnakan (tulisan ini).
  • Berkata As-Sam’ani tentang Ibnu Fathimah, “Ia adalah seorang yang banyak haditsnya, bagus tingkah lakunya, teman bermajelis yang baik, aku belum pernah melihat seorang yang lebih dermawan dalam pemberian darinya, aku banyak mendengar (hadits) darinya dan ia menuliskannya kepaku beberapa bagian. Dan merupakan sesuatu yang ajaib padanya, bahwa tangannya terputus ketika ia berada di Kirman karena sebuah penyakit, maka suatu ketika ia mengambil pena dan meletakkan kertas dibawahnya kemudian ia menyentuh pena itu dengan kedua telapak tangannya, ia menulis dengan tulisan kaligrafi yang bagus lagi cepat, setiap hari ia menulis sebanyak lima lembar tulisan kaligrafi besar.
  • Dikisahkan bahwa orang-orang menyebutkan dihadapan Asy-Sya’bi tentang hadits yang belum pernah ia dengar, maka kemudian ia mengatakan, “Duhai alangkah menyedihkan” kemudian ia berkata, “Dahulu aku pernah mengingat-ingat haidits hingga aku jatuh sakit.”
  • Dikatakan kepada Asy-Sya’bi, dari manakah semua ilmu yang engkau dapatkan? Maka ia menjawab, “Dengan tidak bersantai ria, menempuh perjalanan ke berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya keledai, dan bersegera seperti bersegeranya burung gagak.”
Sebagai nasehat terakhir: Ketahuilah wahai seorang yang ingin menempuh jalan ini, ketahuilah bahwa taufiq itu hanyalah milik Allah kepada-Nya-lah kita menyembah dan kita memohon pertolongan, maka barang siapa tidak diberikan oleh Allah cahaya atasnya dia tidak akan mendapatkan cahaya. Pintu kemuliaan senantiasa terbuka bagi siapa saja saja yang menginginkannya.
Apabila engkau merasa takjub dengan perangai seseorang
Maka jadilah engkau seperti dia maka engkau akan mendapati apa yang engkau idam-idamkan darinya.
Tidaklah seorang yang memiliki kemuliaan
Apabila engkau mendatanginya malainkan ada rintangan yang menghalangimu .
Hanya kepada Allah semata Kami memohon kepada Allah agar ditinggikan tekad kami, mengampuni kami, memberikan petunjuk kepada kami, dan menjadikan kami sebagai orang-orang yang memberikan petunjuk, maka hanya Allah-lah yang maha mampu atas segala sesuatu, Dia-lah pencukup kami dan sebaik-baik pemberi pertolongan.
Washallallahu wasallama  ‘ala nabiyyina Muhammad wa’ala alihi washahbihi wasallam